Road to Tambora : Dihadang Jelatang

IMG_1275_1276_1777_1278

Hari masih pagi, udara dingin pun masih menyelimuti area batas vegetasi sementara sebagian kawasan Gunung Tambora tampak masih tertutup oleh kabut. Namun peluh sudah membasahi badan kami. Pagi ini, beban ransel di punggung terasa lebih berat dari hari-hari sebelumnya. Belum lagi rasa haus yang mendera kami dari semalam telah membuat mulut kering dan bibir mulai pecah. Perlahan kami melangkahkan kaki mendaki kembali ke arah Puncak Pancasila. Hal ini kami lakukan setelah sore kemarin kami salah menentukan jalur turun hingga bertemu dengan sekelompok tanaman jelatang.

Setelah berhasil summit dan puas berfoto di Puncak Pancasila, kami segera beranjak turun menyusuri punggungan berpasir yang terletak disisi kanan Puncak. Kami melangkah santai menyusuri punggungan curam, sesekali kami berhenti melepas lelah dan menikmati keindahan alam dan semburat kuning matahari sore yang terbentang di depan mata kami. Sambil melangkah, beberapa diantara kami mulai membayangkan segelas kopi dan susu coklat panas, membuat kami tidak sabar untuk segera membuka tenda dan menyeduh air panas. Berdasarkan hasil orientasi dan pertimbangan informasi yang kami peroleh dari Bang Jon, seorang pemandu senior yang kami temui di Desa Doropeti. Menurut Bang Jon, jalur turun menuju Desa Pancasila terletak di punggungan kedua dari sisi kanan Puncak. Namun siapa sangka, yang terjadi justru sebaliknya, jalur punggungan yang kami lalui justru mengarahkan kami ke sekelompok tanaman jelatang yang tumbuh subur dan menutupi seluruh area punggungan.

 Dihadang Jelatang

“Cuy, jalur di depan tertutup sama jelatang”, teriak Aldo yang berada paling depan.

Kami segera berhenti, Kevin dengan sigap mengeluarkan golok dan melangkah ke depan Aldo. Dengan cekatan, Kevin mulai menebas tanaman jelatang yang menutupi jalur dan berusaha menerobos maju, namun semakin ke dalam rimbunan tanaman jelatang setinggi orang dewasa semakin banyak. Kevin dan Aldo pun berusaha melambung ke sisi kanan dan kiri jalur, namun tetap menemukan kondisi yang sama.

jelatangPada saat Kevin dan Aldo berusaha menerobos rimbunan jelatang, Theo dan Geo melakukan orientasi. Sementara langit sore perlahan meredup dan berganti dengan langit malam. Kami pun menyadari bahwa kami telah salah menentukan jalur turun, akhirnya kami putuskan untuk bermalam di sekitar batas vegetasi. Pada saat Kevin dan Aldo kembali, tampak di bagian muka dan tangan mereka muncul bentol-bentol akibat bersentuhan dengan daun jelatang. FYI, Jelatang adalah sejenis tanaman yang daunnya dapat menyebabkan gatal, perih dan panas jika tersentuh kulit. Tanaman ini ada yang berbatang dan ada juga yang merambat, dengan ketinggian antara 10 cm hingga 1 m. Ada beberapa jenis jelatang yang dibedakan berdasarkan bentuk dan rasa gatal yang ditimbulkannya, semakin besar dan lebar daunnya maka efek rasa gatal dan perih yang ditimbulkan juga semakin besar.

Menurut rencana, seharusnya malam ini kami bermalam di deket sumber air Sori Kalate, sehingga kami dapat mengisi ulang persedian air kami yang mulai menipis. Namun siapa sangka yang terjadi adalah kami nyasar, mau tidak mau kami harus berhemat dengan sisa air yang ada. Maka untuk malam ini kami putuskan hanya menghabiskan satu liter air hingga besok pagi. Semetara sisa persedian sebanyak 2 liter akan kami simpan untuk perjalanan besok. Alhasil malam itu, kami masing-masing hanya mendapatkan jatah air tiga tutup botol air mineral. Makan malam yang seharusnya terasa nikmat karena dari siang kami hanya mengisi perut dengan beberapa potong biskuit dan susu energen, yang terjadi adalah rasa seret ketika mengunyah potongan daging rendang kering dan membuat mulut kami semakin kering. Beberapa diantara kami mulai membongkar packingan dan mengeluarkan botol air minum kosong, berharap masih mendapatkan beberapa tetes sisa air dari botol-botol tersebut.

Malam bertambah larut, bintang-bintang pun semakin banyak menghiasi langit Tambora. Dari punggungan sebelah, kami melihat kilatan cahaya api unggun yang menandakan ada pendaki lain di sekitar Puncak Pancasila. Hal ini membuat kami senang sekaligus tersenyum kecut. Senang karena ada pendaki lain yang bisa kami mintai informasi jalur turun ke Desa Pancasila, kecut karena membayangkan tanjakan yang harus kami lalui nanti, yaitu jalur turun yang kami lalui tadi sore hingga di tempat bermalam saat ini.

Udara pagi menerobos masuk melalui bagian bivak yang tidak tertutup, membuat saya terbangun dan membenarkan tutup sleeping bag yang terbuka. Tadi malam, karena kontur tanah yang miring dan area yang tidak terlalu luas, serta untuk menghemat waktu, maka kami putuskan membuat bivak untuk tempat beristirahat. Selintas saya mengintip keluar melalui celah yang terbuka, tampak langit mulai terang, beberapa rekan pun sudah bangun namun masih enggan keluar dari kantong tidur masing-masing. Setelah nyawa terkumpul, barulah kami beranjak keluar dari sleeping bag dan membangunkan rekan-rekan yang masih tertidur. Setelah semuanya bangun, kami mulai membagi tugas, ada yang merapikan barang-barang yang digunakan semalam, packing dan menyeduh air. Pagi ini, karena keterbatasan air, kami mengganjal perut kami dengan 2 gelas energen dan beberapa sendok sisa daging rendang semalam.

DSC_2774_smallHampir 2 jam kami mendaki untuk kembali ke bibir Kaldera Tambora, lalu masih dibutuhkan 1 jam melintasi bibir kaldera hingga tiba di Pos 5. Selama pendakian tersebut rasa haus semakin bertambah dan tenaga kami semakin terkuras. Dalam perjalanan menuju ke Pos 5 via jalur Kuburan, kami bertemu dengan pendaki yang menginap dan menyalakan api unggun di punggungan sebelah. Mereka terdiri dari 2 orang dewasa dan 2 orang adik kakak yang merupakan anak dari salah satu pendaki yang juga merangkap sebagai ketua regu. Pendaki-pendaki tersebut merupakan penduduk dari Desa Pekat yang terletak di kaki Gunung Tambora. Ternyata Pak Umbu sengaja menunggu kami di jalur Kuburan tersebut.

“Saya sengaja nunggu di sini. Saya lihat yang paling depan berusaha ngejar kita,” kata Pak Umbu sambil menunjuk Eko dan Theo. Saya kirain mau ke Puncak, tapi tadi langsung motong ke Kawah. Saya curiga, makanya saya tungguin”, lanjut Pak Umbu.

“Iya pak, kami nyasar, jalur tempat kami bermalam ditutup jelatang, kami coba melambung tapi kondisinya sama”, jawab Theo.

Sekedar informasi, dari Pos 5 pada jalur pendakian via Pancasila terdapat dua jalur menuju Puncak Pancasila, yaitu Jalur Bukit dan Jalur Kuburan. Perbedaannya Jalur Kuburan lebih pendek tetapi tentunya lebih terjal, sementara Jalur Bukit lebih panjang karena melambung mengikuti kontur punggungan. Jalur Kuburan, disebut demikian karena di tengah jalur tersebut terdapat Monumen Peringatan pemandu pertama di Gunung Tambora. Sayangnya, kondisi monumen tersebut kurang terawat dan ada beberapa coretan oknum-oknum yang tidak bertanggungjawab. Hal yang sama juga kami temukan pada monumen untuk mengenang Alm. Prof. Widjajono, mantan Wamen ESDM yang meninggal dunia saat mendaki Tambora pada tahun 2012 silam.

Monumen

Singkat cerita, kami segera beranjak menuju Sori Kalate yang terletak di 2.050 m dpl dan merupakan salah satu sumber air di dekat Pos 5 jalur Pancasila. Sori Kalate dalam bahasa setempat berarti air sungai berbatu. Sumber air ini berupa genangan air dari sungai musiman yang kering sehingga kualitas airnya kurang bagus. Namun menurut Pak Umbu, air disini tidak pernah kering walaupun sedang musim kemarau. Saat tiba di Sori Kalate, waktu menunjukkan hampir jam 11 siang, kami putuskan untuk beristirahat makan siang dan memulihkan tenaga serta rasa dahaga kami. Sementara itu, Kevin memanfaatkan waktu istirahat untuk memperbaiki sol sepatunya yang mulai terbuka. Menurut Pak Umbu, jalur punggungan yang kami lalui semalam sebenarnya mengarah ke salah satu desa di kaki Gunung Tambora. Namun jalur tersebut jarang digunakan dan hanya beberapa warga desa yang mengetahui jalur tersebut, sehingga tidak heran jalur tersebut ditutupi oleh tanaman.

Jam di tangan menunjukan pukul 13.10, hampir 2 jam lebih kami beristirahat, kami segera bersiap-siap melanjutkan perjalanan. Tenaga sudah pulih, botol air minum pun sudah diisi ulang sehingga cukup sampai ke Pos 2. Dari Sori Kalate masih dibutuhkan dua setengah jam perjalanan menuju Pos 2. Jalur pendakian cukup jelas walaupun tetap harus berhati-hati dengan jelatang yang tumbuh di kiri-kanan jalur pendakian. Di Pos 3, rombongan sempat beristirahat sebentar menunggu saya dan Geo yang berada di kloter terakhir, karena telapak kaki kami berdua mulai melepuh. Tiba di Pos 2 kami memutuskan beristirahat dan kembali mengisi botol air yang sudah kosong, disini terdapat sebuah sungai kecil dengan air yang jernih dan mengalir sepanjang musim.

Hari mulai gelap ketika kami tiba di Pintu Rimba. Setelah beristirahat sejenak, kami melanjutkan perjalanan menuju batas desa. Sambil menahan rasa sakit di telapak kaki, Geo dan saya memaksakan diri terus berjalan hingga tiba di batas desa. Telapak kaki yang keringatan ditambah dengan butiran pasir yang menyusup masuk ke dalam rongga-rongga sepatu serta ukuran sepatu yang terlalu ngepas merupakan perpaduan sempurna yang menyebabkan telapak kaki melepuh dan lecet. Akibatnya waktu tempuh kami berdua agak melambat dan tentunya hal ini berpengaruh kepada waktu tempuh keseluruhan tim yang terpaksa menunggu kami berdua.

Perjalanan menuju Desa Pancasila sejauh empat kilometer, kami lalui tanpa hambatan. Di kiri kanan jalan, tampak berjejer pohon kopi milik warga. Desa Pancasila memang dikenal sebagai salah satu penghasil kopi Tambora yang terkenal. Tiba di batas desa, telapak kaki saya semakin melepuh dan sakit, namun perjalanan masih setengah jalan menuju Pos Pendakian Tambora. Kami berpisah dengan Pak Umbu dan rombongan yang melanjutkan perjalanan menuju Desa Pekat, sementara kami menuju Desa Pancasila. Kebetulan pemilik warung di depan batas desa memiliki motor dan bersedia mengantarkan saya dan Geo ke Pos Pendakian. Kami berdua memutuskan menggunakan jasa pemilik motor tersebut agar kondisi telapak kaki kami tidak semakin parah karena besok kami harus melanjutkan perjalanan ke Pulau Moyo. Sementara teman-teman lain tetap berjalan kaki menuju Pos Pendakian. Jam 20.30, akhirnya seluruh tim berkumpul di Pos Pendakian. Kami bersyukur bahwa perjalanan tahap pertama di Pulau Sumbawa telah selesai, besok kami akan melanjutkan perjalanan menuju Pulau Moyo.

IMG_1270_small
Menyusuri Kaldera Tambora
IMG_1417_small
Berbincang dengan Pak Umbu dkk di Pos 3
DSC_2545_small
Sunset view
Advertisements