Road to Tambora : Langkah Awal

IMG_0888_sGunung Tambora memang mempesona dan menakjubkankan. Cerita mengenai gunung bertipe stratovolkano yang terletak di Semenanjung Sanggar, Pulau Sumbawa ini seolah tiada habisnya. Tahun lalu, tepatnya pada bulan April 2015, genap 200 tahun meletusnya Gunung Tambora. Letusan mahadahsyat tersebut telah mendera Nusantara dan penjuru dunia. Tercatat puluhan ribu orang menjadi korban jiwa langsung dan memusnahkan peradaban yang berada di sekitar gunung tersebut. Ratusan ribu nyawa melayang akibat anomali cuaca yang disebabkan oleh debu vulkanik yang terlempar ke lapisan atmosfer dan menghalangi cahaya matahari sehingga terjadi pendinginan global yang dikenal dengan ‘Tahun Tanpa Musim Panas’, akibatnya terjadi gagal panen dan menimbulkan kelaparan besar. Menurut hasil penelitian, diperkirakan Gunung Tambora memiliki ketinggian 4.300 meter dari permukaan laut. Akibat letusan pada tahun 1815 tersebut, telah memangkas nyaris separuhnya menjadi 2.851 m dan meninggalkan lubang menganga dengan kedalaman 1.100 meter dan lebar 6,2 km. Namun dibalik semua bencana yang ditimbulkan, letusan Gunung Tambora telah menginspirasi Baron Karl von Drais menciptakan sepeda yang disebut Draisine (diambil dari nama penemunya) atau Laufmaschine (‘mesin berjalan’ dalam Bahasa Jerman).

IMG_1452_sUntuk mengenang peristiwa tersebut, pihak Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif dan Pemerintah Provinsi NTB telah menghelat sebuah acara akbar bertajuk ‘Tambora Menyapa Dunia 2015’. Acara yang digelar pada bulan April 2015 ini telah menyedot ribuan pendaki dan masyarakat mengunjungi Gunung Tambora. Bahkan Presiden Joko Widodo turut hadir dan meresmikan kawasan Gunung Tambora menjadi Taman Nasional. Gegap gempita ini juga menyedot perhatian rekan-rekan dari HMPA Edelweiss, sebuah unit kegiatan mahasiswa di Fakultas Ekonomika dan Bisnis Unika Atma Jaya, Jakarta. Sebagai UKM yang bergerak dibidang kegiatan alam bebas, pendakian Gunung Tambora merupakan tantangan tersendiri bagi para anggotanya. Maka diputuskan pendakian akan dilaksanakan pada bulan Juni 2015 dan saya diajak serta untuk mengabadikan pendakian tersebut.

Road to Tambora

IMG_0618Setelah melalui berbagai persiapan, maka pada hari yang sudah ditentukan, kami berdelapan berkumpul di sebuah ruangan kecil di lantai sepuluh Unika Atma Jaya. Setelah melakukan pengecekan ulang dan berdoa memohon keselamatan selama dalam perjalanan, kami segera menuju Terminal Rawamangun. Tiba di Rawamangun, kami sempat menunggu beberapa saat sebelum Bus Pahala Kencana yang akan membawa kami menuju Denpasar, tiba di terminal. Sekitar jam 12.15 bus perlahan meninggalkan terminal menuju tol dalam kota. Sebenarnya rencana awal guna menghemat biaya, kami hanya menumpang bus tersebut sampai di Ketapang, Banyuwangi. Lanjut menumpang kapal ferry menuju Gilimanuk, kemudian bus Gilimanuk – Denpasar. Ketika berada di dalam kapal ferry, kami bertemu kembali dengan beberapa penumpang dan kondektur bus tersebut. Dari mereka, kami mendapatkan informasi bahwa bus lokal dari Gilimanuk – Denpasar hanya ada pada pagi hari, sementara saat itu sudah hampir jam 3 sore. Oleh kondektur bus, kami ditawari untuk menumpang kembali dengan tarif sama seperti bus lokal.

Hari sudah gelap ketika bus tiba di Terminal Mengwi, Bali. Terminal tersebut merupakan terminal baru yang berfungsi sebagai terminal transit sebelum bus-bus luar kota menuju Terminal Ubung. Terminal tersebut tampak sepi, hanya ada beberapa kendaraan kecil jenis MPV yang difungsikan sebagai kendaraan travel yang terparkir rapi. Sementara bus-bus besar dari luar kota yang datang hanya menurunkan beberapa penumpang, terutama penumpang dengan tujuan Padang Bai. Dari Mengwi, kami melanjutkan perjalanan menggunakan mobil travel. Tiba di Padang Bai, kami beristirahat sebentar sambil mengisi perut yang sudah keroncongan. Dari Padang Bai, perjalanan kami lanjutkan dengan menumpang kapal ferry menuju Lombok. Beruntung saat itu penumpang di kapal tidak terlalu ramai sehingga kami bisa mendapatkan tempat beristirahat yang lebih leluasa dan nyaman. Waktu penyeberangan selama 4 jam 30 menit pun kami manfaatkan dengan sebaik mungkin untuk beristirahat.

Menjelang subuh, kapal ferry yang kami tumpangi merapat di Pelabuhan Lembar, Lombok. Ketika berjalan keluar dari Pelabuhan, kami segera dihampiri oleh beberapa calo maupun sopir travel yang mangkal.  Setelah menjelaskan tujuan kami, segera terjadi tawar menawar harga sampai tercapai kesepakatan dengan salah seorang sopir mobil travel. Kami segera memasukkan barang bawaan kami ke dalam Kijang Innova silver tersebut. Kabin mobil yang seharusnya cukup lapang, segera penuh sesak oleh kami berdelapan plus ransel 80 liter. Tak perlu menunggu lama, mobil yang dikendarai oleh Bang Joni segera meluncur membelah jalanan menuju Mandalika. Beruntung jarak Pelabuhan Lembar – Terminal Mandalika tidak terlalu jauh dan kondisi lalu lintas yang lenggang sehingga kami tidak perlu terlalu lama berdesakan di dalam mobil tersebut.

Pagi di Mandalika

IMG_0670_sJam di tangan menunjukkan pukul 4.30 waktu setempat ketika innova yang kami tumpangi memasuki gerbang terminal. Suasana di dalam terminal sendiri tampak sepi dan mencekam dengan hanya diterangi beberapa lampu neon di sudut-sudut terminal. Belum lagi kami semua turun dari mobil, entah dari mana datangnya, seketika mobil kami sudah dikerubungi para calo. Beruntung Bang Joni, cukup dikenal di sini, sehingga beliau meminta agar memberikan kami waktu dan ruang untuk menurunkan ransel kami. Setelah Bang Joni berpamitan, kami kembali dikerubungi para calo. Berbekal pengalaman yang sudah sering kami temui dan informasi mengenai kondisi rawan di terminal bus di beberapa wilayah di Indonesia, maka kami berbagi tugas. Beberapa diantara kami segera menyingkirkan ransel-ransel kami ke tempat yang lebih aman, sementara yang lain tetap berjaga memperhatikan barang bawaan kami dan situasi sekitar terutama teman-teman yang terlibat tawar menawar harga dengan para calo. Akhirnya setelah proses tawar menawar yang cukup alot, kami mendapatkan harga tiket sesuai dengan tarif yang berlaku untuk trayek Lombok (Terminal Mandalika) – Dompu (Terminal Ginte), yaitu Rp. 200.000/tiket dari penawaran pertama oleh para calo di harga Rp. 350.000/tiket.

IMG_0705_1Perlahan Bus Dunia Mas mulai meninggalkan terminal. Sebagian dari kami mulai mengatur posisi untuk melanjutkan tidur, sementara yang lain ada yang tetap melek menikmati pemandangan dan kesibukan masyarakat Kota Mataram di pagi hari dari balik kaca jendela. Tepat jam 11.00 waktu setempat, bus yang kami tumpangi tiba di Pelabuhan Kayangan. Tanpa terasa perjalanan selama 2,5 jam melintasi Pulau Lombok dari Barat ke Timur telah kami lalui. Pelabuhan Kayangan merupakan sebuah pelabuhan kecil yang terletak di Lombok Timur yang menghubungkan Pulau Lombok dan Pulau Sumbawa. Pelabuhan ini resmi dioperasikan pada tahun 1991. Siang hari itu, pelabuhan kecil ini tampak cantik dihiasi oleh warna-warna cerah di sepanjang lintasan dermaga. Dari pinggir pelabuhan, Gunung Rinjani tampak gagah walau sebagian puncaknya tertutup oleh awan. Beruntung saat itu kendaraan yang akan menyeberang tidak banyak, sehingga tidak perlu waktu terlalu lama, bus yang kami tumpangi telah berada di lambung kapal.

IMG_0750_sJam 11.45 kapal ferry mulai bergerak membelah Selat Alas. Sebagian besar penumpang memilih beristirahat di ruang tunggu, sementara sisanya berada di geladak kiri-kanan kapal, dekat ruang kemudi. Saya dan teman-teman memilih beristirahat di geladak kapal. Selain dapat menikmati keindahan alam dan pulau-pulau cantik yang tersebar di sepanjang Selat Alas, hembusan angin yang langsung menerpa wajah kami merupakan obat mujarab mengobati rasa lelah. Hampir dua setengah jam kami berlayar bersama KM Enggano. Begitu mendarat di Pelabuhan Poto Tano, bus yang kami tumpangi segera meluncur menuju Dompu. Dalam perjalanan, bus sempat berhenti di salah satu rumah makan yang terletak di jalan lintas Sumbawa Besar, dekat Terminal Bus Sumber Payung.

Langit sore mulai menyapa bumi Sumbawa ketika bus yang kami tumpangi melintasi wilayah tengah pulau tersebut. Dari balik jendela, Teluk Saleh tampak cantik sekali dengan kilauan cahaya kuning, saya segera mengeluarkan kamera dan mencoba mengambil beberapa gambar. Dari bangku seberang, tampak Theo yang duduk di sebelah kanan juga melakukan hal yang sama. Dari sebelah kanan bus, terhampar bukit-bukit cantik yang tampak berjejer rapi dan dipenuhi oleh ilalang savana. Bukit-bukit tersebut berjejer rapi disepanjang jalan. Sesekali kami melihat kuda Sumbawa berkeliaran di sekitar savana tersebut.

Bertemu ‘Mayweather’

IMG_0813_1Menjelang jam 8 malam, akhirnya kami tiba di Terminal Ginte, Dompu. Seperti di Mandalika, kami segera dikerumuni sekelompok orang, bedanya kali ini yang mengerumuni kami adalah tukang ojek yang mangkal di terminal. Setelah dijelaskan tujuan kami, kerumunan tidak surut hanya berganti orang, kali ini giliran para calo. Kembali kami menjelaskan maksud tujuan kami. Karena hari sudah malam, ada beberapa yang bersikap baik dan mengatakan bahwa kami harus menunggu besok pagi, karena bus tujuan Doropeti baru beroperasi setelah jam 7 pagi. Namun ada beberapa yang memaksa agar kami mau mencarter kendaraan yang mereka tawarkan, bahkan ada yang mengaku sebagai petugas yang berwenang dan meminta kami membayar 1 juta untuk mencarter kendaraannya. Semua penawaran tersebut, kami tolak dengan halus dan kami tegaskan bahwa kami hanya memiliki dana yang cukup untuk membayar bus dengan tarif reguler. Perlahan kerumunan mulai mencair hingga tersisa seorang pemuda berbadan kekar yang menyarankan kami agar beristirahat di dalam ruangan petugas terminal. Bang Agus, nama pemuda tersebut, lantas mengantarkan kami ke petugas yang tengah bersiap untuk pulang. Setelah memperoleh ijin, kami segera memindahkan barang-barang kami ke dalam ruangan. Bang Agus sendiri sudah tidak terlihat di sekitar terminal. Setelah selesai makan, saya bersiap memanaskan air untuk menyeduh kopi, sementara teman-teman lainnya ada yang bermain gadget, ada juga yang mengisi ulang baterai kamera dan ponsel selularnya. Bang Agus kembali menghampiri kami sambil membawa 2 botol air minum kemasan 1,5ml. Rupanya tadi dia pulang ke rumah. Malam ini, kami terlibat obrolan panjang dengan Bang Agus “Mayweather” (Aldo dan Kevin menjuluki Bang Agus dengan panggilan “Mayweather” karena sepintas raut wajah dan perawakan Bang Agus mirip dengan petinju tersebut).

DSC_1906_sAngin dingin menyelusup masuk melalui pintu yang setengah tertutup, matahari pun tampak masih enggan bersinar, namun suara lalu lalang satu dua kendaraan bermotor sudah bermunculan dari arah pasar sayur yang terletak persis di samping terminal. Sebuah mobil bak terbuka menghampiri kami dan menawarkan jasa mengantarkan kami ke Doropeti. Rupanya Bapak tersebut mendapatkan informasi dari petugas terminal yang memberikan kami ijin menginap. Setelah tercapai kesepakatan harga, Bapak tersebut pamit untuk mengisi BBM, sementara kami segera menyantap nasi bungkus yang dibeli oleh Eko dan Kevin. Jam 7 pagi, mobil bak tersebut mulai membelah jalanan Kota Dompu menuju ke arah utara pulau Sumbawa. Mobil melaju dengan kecepatan sedang, sementara kami yang berada di bak belakang mobil tersebut menikmati pemandangan di sepanjang jalan menuju Doropeti. Bukit-bukit hijau dengan savana nan luas tampak berjejer di sisi kanan jalan, sementara sisi kiri terhampar pantai-pantai cantik yang mengoda. Ketika tiba di wilayah Doro Ncanga, kami segera minta berhenti dan berlarian ke arah padang savana nan hijau dengan latar Gunung Tambora yang berdiri dengan kokoh. Setelah puas berfoto, kami kembali melanjutkan perjalanan. Tanpa terasa kami telah tiba di depan Puskesmas Pembantu Doropeti, sebuah gedung sederhana bercat kuning yang terletak di pinggir jalan lintas Dompu – Calabai.  Perjalanan selama 3 jam tersebut sungguh tidak membosankan. Setelah melunasi pembayaran, kami segera beranjak menuju Pos Pengamatan Gunung Api Tambora yang merupakan titik awal pendakian kami. Kami disambut oleh Kang Jaya, petugas yang berjaga di Pos Pengamatan, dan mempersilahkan kami beristirahat di Pos tersebut.

Akhirnya perjalanan sejauh ±1.800 km, melintasi 4 pulau, 3 selat, dan memakan waktu hampir 72 jam berakhir sudah. Hari ini kami akan  beristirahat dan bermain di pantai sebelum melanjutkan pendakian.

IMG_0920_s
Puskesmas Pembantu Cabang Doropeti
1433992575491_s
Swafoto di Jalan Lintas Dompu – Calabai

 

 

 

 

 

IMG_0787_s
Pelabuhan Poto Tano
IMG_0702_s
Pelabuhan Kayangan
Advertisements