Road to Tambora : Menggapai 2851

Agung melangkah pelan akibat kram otot pada kaki kanannya. Ia tampak meringis menahan sakit. Selangkah demi selangkah, ia berusaha menambah jarak tempuh hingga mencapai lokasi Camp yang berada di ketinggian 1.000 meter dari permukaan laut (m dpl). Hari ini merupakan hari pertama kami mendaki Gunung Tambora yang terletak di Sumbawa. Berbeda dengan umumnya pendakian gunung-gunung di Pulau Jawa yang dimulai dari titik ketinggian 1.000 – 1.800 m dpl, pendakian di Gunung Tambora di mulai dari ketinggian ± 50 m dpl. Sehingga untuk mencapai  ketinggian 2.851 m dpl, kami harus mendaki sejauh ± 29 km.

Pos Gunung Api Tambora

IMG_1066_1Setelah melalui perjalanan panjang selama 4 hari dari Jakarta, akhirnya kemarin siang kami tiba di Pos Pengamatan Gunung Api Tambora yang terletak di Doropeti. Kami disambut oleh Kang Jaya, seorang staff Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) yang berasal dari Bandung dan telah bertugas di sana selama ± 7 tahun. Bangunan selebar ± 15 m dengan dinding bercat oranye dan beratap baja ringan serta lantai yang telah dipasang marmer tampak bersih dan asri. Halamannya cukup luas, walaupun bagian depan masih berupa tanah namun disisi kiri kanan serta belakang rumah telah ditumbuhi rumput pendek yang tampak terawat, membuat rumah sekaligus merupakan kantor Pengamatan Gunung Api Tambora tersebut tampak nyaman. Sambil menikmati santap siang, kami terlibat obrolan santai dengan Kang Jaya mengenai awal perjalanan dari Jakarta hingga tiba di Doropeti, sebaliknya Kang Jaya menceritakan kondisi dan cuaca terakhir di Gunung Tambora. Kang Jaya juga berkisah bahwa bangunan tersebut baru mengalami renovasi sebelum event Tambora Menyapa Dunia pada 2015 yang lalu, termasuk pagar besi dengan tembok bercat putih yang baru dipasang mengelilingi bangunan tersebut.

IMG_1071_1Malam berganti pagi, suara kokok ayam dan kicau burung telah membangunkan saya dari tidur lelap. Segera saya beranjak keluar, tampak Kevin dan Aldo yang masih terlelap di sofa. Setelah semuanya bangun, kami mulai bersiap-siap untuk memulai pendakian. Sebelum meninggalkan pos, kami sempat bertemu dengan Bang Jon, seorang pemandu senior dari Doropeti yang rumahnya terletak di sebelah Pos Pengamatan. Dari Bang Jon, kami  mendapatkan briefing singkat mengenai kondisi jalur yang akan kami lalui. Berbeda dengan jalur Pancasila yang sangat jelas dan telah disediakan saung di setiap pos sebagai tempat beristirahat. Maka sepanjang jalur Doropeti mulai dari titik start hingga puncak, lokasi Camp atau pos tidak diberi tanda sama sekali. Bagi pendaki yang baru pertama kali melintas melalui jalur Doropeti, satu-satunya cara untuk mengetahui sudah sampai di pos dan ketinggian berapa adalah dengan membaca ketinggian dari altimeter atau GPS serta orientasi medan. Menurut Bang Jon, dari titik start hingga ketinggian ± 1.300 m dpl banyak pertigaan jalur yang merupakan jalur penebang kayu. Sementara setelah ketinggian ± 2.000 m dpl, pendaki akan bertemu dengan jalur berbatu dan beberapa punggungan yang cukup terjal. Jalur-jalur tersebut tampak membingungkan terutama buat pendaki yang tidak menguasai navigasi, karena tidak ada jalan setapak seperti umumnya jalur pendakian gunung di Pulau Jawa. Untuk mencapai bibir kaldera, pendaki juga harus mengambil jalan memutar dan memanjat beberapa punggungan yang cukup terjal. Bang Jon juga mewanti-wanti agar kami tidak sembarangan mengambil foto terutama di areal hutan yang berdekatan dengan area penebangan, karena dikhawatirkan penebang mengira kami mengambil foto mereka untuk dilaporkan kepada pihak berwajib.

Hei…Mister

Perjalanan kami mulai dari Pos Pengamatana Gunung Api Tambora yang berada di ketinggian 57 m dpl. Beruntung kami mendapatkan tumpangan mobil milik warga Doropeti yang juga merupakan staff lokal Pos Pengamatan tersebut. Mobil diesel bercat biru gelap tersebut segera meluncur ke arah timur laut menyusuri jalan tanah berpasir. Suara riuh anak-anak yang berteriak ‘Mister… Mister …” menyambut kami ketika melewati perkampungan mereka. Kami disangka sekelompok bule yang akan mendaki Tambora. Tak bisa dipungkiri, warga di sini lebih sering bertemu dengan pendaki-pendaki dari mancanegara daripada warga Indonesia.

Semakin lama jalan yang kami lalui semakin mengecil dan hanya tinggal selebar satu mobil dengan ilalang yang tumbuh subur di samping kiri dan kanan jalan. Hampir empat puluh lima menit kami berdelapan menikmati perjalanan dari bak belakang mobil. Dari jalanan rata hingga akhirnya ikut berguncang ke kiri dan kanan mengikuti irama mobil melewati ruas jalan yang tidak rata. Di beberapa lokasi kami harus menunduk menghindari ranting dan dahan pohon yang menjorok ke arah jalan. Akhirnya mobil berhenti karena terhalang oleh gundukan tanah yang cukup tinggi. Kami segera meloncat turun dan melanjutkan dengan berjalan kaki. Hampir satu setengah jam berjalan kaki dan melewati beberapa ladang sayuran, akhirnya kami tiba di sebuah pertigaan. Karena tidak ada petunjuk arah yang jelas, kami melakukan orientasi dan memutuskan mengambil jalan yang lebih kecil yang mengarah ke arah hutan.

DSC_2173_1Suara gergaji mesin menyambut kedatangan kami, semakin jauh berjalan ke dalam, semakin sering kami mendengar suara alat pemotong kayu yang bersahut-sahutan layaknya sebuah simfoni orchestra. Kami sempat bertemu dengan beberapa penebang, ada yang berjalan kaki, ada juga yang menggunakan motor, bahkan kami bertemu dengan sebuah Jeep Willys yang digunakan untuk mengangkut kayu yang diparkir di tengah-tengah jalur pendakian. Kami sempat bertanya mengenai jalur ke gunung dengan beberapa penebang, kebanyakan diantara mereka menjawab tidak tahu. Hanya beberapa penebang yang dari sisi penampilan dan perawakan terlihat sudah cukup lama berada di hutan, memberikan arah kepada kami. Sesuai dengan pesan dari Bang Jon, kamera yang dibawa, kami simpan dengan baik. Hanya sesekali kami keluarkan untuk mengambil foto jalur pendakian dan marka berupa tali plastik kuning hitam (mirip police line) yang dipasang oleh Bang Jon.

Waktu menunjukkan jam tiga kurang enam belas menit ketika kami tiba di sebuah tanah lapang yang bisa menampung empat tenda dome. Ketika diperhatikan lebih seksama, ada sebuah plang kecil bertuliskan Basecamp 1. Kami putuskan untuk mendirikan tenda dan beristirahat di sini, terutama Agung yang mengalami kram di kaki kanan. Kami bersyukur perjalanan hari ini termasuk cepat dan medan yang dilalui cukup landai sehingga tanpa terasa kami sudah berada di ketinggian 1.112 m dpl. Mobil yang kami tumpangi tadi pagi ternyata sangat membantu kami memangkas waktu perjalanan. Hal ini baru saya sadari setelah saya melihat tabel lintasan yang dicetak di spanduk yang ada  di Pos Pendakian Pancasila. Jika berjalan kaki dari Pos Pengamatan hingga persimpangan pertama butuh waktu 5 jam 57 menit, sementara tadi dengan mobil hanya butuh ± 45 menit dan dilanjutkan berjalan kaki sekitar satu setengah jam.

Bertemu Singa Terbang

IMG_1090_1Raugan suara mesin gergaji memecah keheningan pagi, disusul dengan suara golok dan kapak beradu dengan kayu menghasilkan irama ketukan yang konstan. Kami segera mengepak kembali semua perlengkapan dan peralatan yang telah digunakan tadi malam. Sementara sinar matahari pagi tampak bersemangat menerobos rimbunan pohon-pohon yang memayungi hutan Tambora. Semakin jauh kami berjalan ke dalam hutan, semakin rimbun dan diameter pohon yang kami lihat semakin besar. Di beberapa lokasi, jalur pendakian ditutup oleh pohon-pohon  besar yang entah tumbang karena faktor cuaca atau sengaja ditebang oleh para pelaku illegal logging. Beberapa kali kami terpaksa melintas di area penebangan karena jalur pendakian terletak persis di tengah-tengah area tersebut. Serpihan kayu dari batang pohon yang ditebang tampak menutupi tanah di area tersebut, serpihan-serpihan tersebut tampak sudah mulai lapuk dan berlumut sehingga mengeluarkan bau khas kayu lembab bercampur dengan tanah. Ketika melangkah melintasi serpihan-serpihan tersebut, sepatu kami tampak amblas ke dalam sampai menyentuh tanah dibawahnya. Hingga ketinggian ± 1.150 meter, kami masih bertemu dengan sekelompok penebang. Kami juga menemukan gubuk-gubuk yang digunakan oleh penebang. Pada saat siang, gubuk-gubuk tersebut tampak kosong dan hanya ada beberapa botol minuman kosong yang sengaja ditinggalkan. Salah satu botol tersebut menarik perhatian kami, botol seukuran minuman berenergi dengan stiker berwarna merah yang tampak mencolok. Botol dengan merk lokal “Singa Terbang” menjadi topik hangat kami di siang itu.

IMG_1093_1Setelah melewati ketinggian 1.300 meter, jalur pendakian mulai terjal, rimbunan pohon mulai berganti dengan tumbuh-tumbuhan perdu dan pohon pinus. Saya sendiri tidak hafal dengan berbagai jenis tumbuhan tersebut, tetapi saya bisa melihat pohon-pohon pinus yang tampak menjulang dan tanaman jelatang yang menimbulkan rasa gatal dan pedas jika daunnya tersentuh kulit. Beberapa pohon pinus, tampak menghitam akibat tersambar petir. Semakin tinggi, punggungan yang kami lalui semakin sempit dan terjal. Saat itu sudah setengah lima sore ketika kami tiba di sebuah punggungan kecil yang cukup datar untuk mendirikan tenda. Sebenarnya punggungan tersebut merupakan jalur pendakian, namun kami tidak ada pilihan lain selain mendirikan tenda di sini. Dari hasil orientasi, kami mengira akan semakin sulit menemukan tempat datar di atas sana. Hal ini dapat kami pastikan keesokan harinya ketika kami melanjutkan perjalanan.

Menggapai 2.851   

IMG_1160_1Jam di tangan menunjukkan pukul tujuh pagi saat kami mulai bersiap-siap. Matahari sudah bersinar terang, namun hawa di sekitar masih terasa dingin. Walaupun posisi tenda kami berada di sebuah punggungan sempit, namun kondisi tenda cukup tertutup karena dikelilingi oleh tanaman dan ilalang sehingga dapat menahan terpaan angin. Dari ketinggian 2.060, pemandangan sekitar sudah mulai terbuka, kami dapat melihat punggungan sempit dan terjal yang menjulang di depan kami. Berjalan sedikit lebih ke atas, kami disuguhi pemandangan hijau hutan Tambora yang berbatasan langsung dengan Desa Doropeti, pantai dan Teluk Saleh yang memantulkan warna biru dari langit Sumbawa serta siluet Gunung Rinjani yang tampak terlihat indah.

DSC_2335_1Semakin ke atas, jalur yang kami lalui semakin terjal sampai akhirnya kami tiba di sebuah tanah datar di ketinggian 2.276 m. Tanah datar seluas ± 20 m² tersebut dikelilingi rumput tebal setinggi 50 cm dengan empat batang pohon cemara yang berdaun cukup lebat sehingga terlihat rindang dan teduh. Dengan tergesa, kami segera melepas ransel, mengambil botol minum dan tiduran di atas rumput tersebut. Beberapa saat kami sempat terpejam menikmati kedamaian di tempat ini. Dari sini, sejauh mata memandang yang tampak hanya tanah bebatuan dengan rumput di atasnya. Sementara di sebelah utara, tepat di depan kami, Puncak Gunung Tambora berdiri dengan tegak, mengingatkan setiap pendaki bahwa perjalanan mereka belum berakhir. Kami terhenyak dan segera bangun, setelah mengambil beberapa foto, kami kembali melanjutkan perjalanan. Untuk mencapai Puncak Pancasila, pendaki harus mengambil rute memutar karena persis di ujung tanah datar tersebut terdapat jurang yang cukup dalam. Satu-satunya pilihan jalan adalah melintasi beberapa punggungan yang berada di sisi kanan. Punggungan tersebut tampak terjal, bahkan beberapa diantaranya hampir tegak lurus seperti tebing sehingga beberapa kali harus dilalui dengan memanjat dan melipir semakin jauh ke kanan.

Matahari tampak semakin garang, layaknya petugas tata tertib, matanya melotot siap menerkam kami satu persatu. Angin yang bertiup perlahan tidak cukup menghalau hawa panas yang keluar dari tanah bebatuan bercampur pasir yang merupakan pantulan dari panas terik matahari. Hampir dua jam lamanya kami melintasi punggungan demi punggungan dan berusaha menambah ketinggian. Ahkirnya pukul 13.47 kami tiba di bibir kaldera Gunung Tambora. Kawah Tambora yang super lebar dengan diameter mencapai 7 km dan kedalaman 1.000 m tersebut tampak menakjubkan. Dari dinging sebelah timur tampak kehijauan ditumbuhi oleh rumput. Sementara dari arah timur laut tampak fenomena awan menggantung. Sekumpulan awan tampak berkelompok di pinggir kawah dan berusaha terjun ke dasarnya. Saya sendiri tidak tahu fenomena ini disebut apa, namun kejadian tersebut berlangsung cukup lama.

Hampir satu setengah jam lamanya kami beristirahat di balik sebuah ceruk di dekat bibir kaldera. Untuk memulihkan tenaga, kami menyeduh beberapa gelas susu energen. Dari balik ceruk, kami dapat melihat bayangan hitam Puncak Pancasila yang berdiri tegak di sisi utara.  Setelah tenaga pulih, kami kembali menyisir bibir kaldera ke arah utara dengan  medan yang cukup landai. Sementara Aldo dan Theo tampak tengah mendaki mendekati Puncak. Pada saat istirahat tadi, kita putuskan Aldo dan Theo berjalan terlebih dahulu sehingga begitu tiba di Puncak, mereka dapat segera melakukan orientasi menentukan arah ke Pos V jalur Pancasila. Akhirnya setelah satu jam melintasi jalur berpasir dan mendaki setinggi 273 m, tepat pukul 16.15 seluruh tim sudah berkumpul di atap Sumbawa, Puncak Gunung Tambora.

IMG_0921_1
Papan Nama Pos Pengamatan Gunung Api Tambora
IMG_1311_1
Puncak Gunung Tambora

 

 

 

 

 

 

IMG_1275_1276_1777_1278_1
Kaldera Tambora
Advertisements